Ambisi iGrow untuk Pertanian Indonesia

AnnelisCCM - 30 November 2017 - 18:07

Ambisi iGrow untuk Pertanian Indonesia

CEO iGrow bicara langsung kepada tim CCM, mengenai solusi teknologi dalam memecahkan permasalahan agrikultur di Indonesia.

Jakarta (CCM) —  "Sebagai negara agrikultur dan dalam rangka meningkatkan pertanian Indonesia, para petani justru masih sering dihadapkan dengan permasalahan dasar, seperti permasalahan modal dan akses pasar,” ungkap Andreas Senjaya, salah satu Pendiri iGrow kepada tim CCM Indonesia. iGrow merupakan startup yang menawarkan platform bagi masyarakat yang ingin berinvestasi dalam pertanian lokal.



iGrow awalnya didirikan oleh Andreas Senjaya dan Muhaimin Iqbal sebagai startup yang menyediakan platform bagi para investor yang ingin menyalurkan modal untuk petani lokal, dalam memberdayakan lahan yang belum optimal, sehingga dapat menghasilkan produk pertanian organik berkualitas tinggi.

Setelah menyelesaikan studi Ilmu Komputer di Universitas Indonesia, Andreas pernah mendirikan e-commerce dan beberapa bisnis lainn. Iqbal sendiri merupakan lulusan pertanian IPB. Keduanya meyakini bahwa keahlian dalam bidang pertanian yang digabungkan dengan teknologi, dapat membantu mengatasi masalah permodalan para petani dan masalah agrikultur di Indonesia.

Selain menyediakan platform bagi investor yang ingin menanamkan modalnya pada sektor agrikultur, iGrow juga memiliki keahlian tertentu dalam bidang pertanian. Salah satunya adalah pendampingan petani dalam critical farming, sampai pembuatan pupuk organik yang berkelanjutan. Setiap jenis tanaman memiliki supervisor atau pengawas ahli. Misalnya supervisor ahli garam, supervisor ahli tomat, dll. Selain itu, setiap lokasi juga memiliki auditor yang bertugas menyusun laporan keuangan yang dikirimkan langsung kepada investor. Lebih dari itu, iGrow memainkan peran penting dalam pendampingan petani, terutama dalam pengembangan dan pemanfaatan lahan, supply-chain produk pertanian, sampai penjualan hasil pertanian.

Ketika ditanya tentang visi Andreas terkait agrikultur Indonesia, ia menyatakan bahwa iGrow ingin membantu para petani Indonesia mengoptimalkan sumber daya alam, sehingga kemandirian dan kedaulatan pangan di Indonesia dapat tercapai. "Indonesia memiliki banyak sumber daya alam yang masih bisa dioptimisasi, namun terkadang masih bergantung dengan negara lain," ujar Andreas lugas. Selain itu, Andreas juga mengatakan bahwa iGrow ingin berkontribusi untuk meningkatkan kesejahteraan hidup para petani.

Dengan disediakannya platform iGrow, Andreas berharap agar setiap warga Indonesia dapat berpartisipasi dan memberi dampak, dalam meningkatkan agrikultur Indonesia. iGrow juga berusaha meningkatkan partisipasi, edukasi, dan sensibilitas agrikultur masyarakat Indonesia. "Pihak kami sering menggelar seminar pertanian, seperti bagaimana cara produksi olive oil, atau tumbuhan lain yang dapat ditanam langsung dengan mudah oleh masyarakat banyak," imbuh Andreas.

Saat ini iGrow telah memiliki lebih dari 2000 investor, serta berhasil memperluas daerah pertaniannya seluas 1.300 hektar di Jawa dan Bali. Kebanyakan investor ini sangat aktif. Ketika iGrow menawarkan investasi garam pada Agustus lalu, 4 miliar rupiah terkumpul dalam waktu kurang dari 48 jam. iGrow juga telah bekerja sama dengan berbagai negara, seperti pengembangan mawar di Perancis, serta berbagai pengembangan lahan di Malaysia, Brasil, Turki, dan Jepang.

Pada Mei 2018 mendatang, iGrow akan mewakili Indonesia dalam kompetisi Startup World Cup di Sillicon Valley.

Image: © iGrow.